Sistem sortir E Waste | AISORT
Ikhtisar Aplikasi — Daur Ulang Elektronik
Pemilahan Sampah Elektronik di Fasilitas Daur Ulang Modern
Sampah elektronik (WEEE) adalah aliran limbah yang tumbuh paling cepat secara global, dengan 62 juta ton dihasilkan pada tahun 2025 dan diproyeksikan mencapai 82 juta ton pada tahun 2030. Pemilahan limbah elektronik memulihkan material berharga (logam mulia, tembaga, aluminium, plastik rekayasa) sekaligus menghilangkan komponen berbahaya (baterai, sakelar yang mengandung merkuri, kapasitor) dengan aman. Kompleksitas material limbah elektronik — satu perangkat dapat berisi 60+ elemen — menjadikannya aplikasi yang paling menuntut untuk pemilahan berbasis sensor.
Karakteristik Material dan Tantangan Penyortiran
Tantangan pemilahan limbah elektronik: keragaman material yang ekstrim (dari plastik dengan kepadatan rendah hingga logam mulia dengan kepadatan tinggi) memerlukan pendekatan multi-teknologi; komponen berbahaya yang harus diidentifikasi dan dihilangkan sebelum penghancuran (baterai menimbulkan risiko kebakaran selama pemrosesan mekanis); plastik tahan api brominasi yang dibatasi berdasarkan Konvensi Stockholm dan harus dipisahkan; dan desain produk yang berkembang pesat yang mengubah komposisi material aliran limbah elektronik dari tahun ke tahun.
Tumpukan Teknologi Penyortiran yang Direkomendasikan
Pra-penghancuran: pelepasan baterai, kartrid toner, dan benda berbahaya berukuran besar secara manual atau robotik. Pasca-penghancuran: XRT (pemisahan logam, plastik, dan keramik berdasarkan kepadatan) → arus eddy (logam non-besi) → induksi (baja tahan karat, tembaga) → NIR (identifikasi polimer fraksi plastik) → RGB (pemilahan plastik berbasis warna). Untuk perolehan logam mulia, proses gravimetri dan kimia tambahan mengikuti penyortiran mekanis.
Tolok Ukur Kinerja
| Metrik | Target |
|---|---|
| Pemulihan Logam | >95% untuk Cu/Au/Ag/Pd |
| Kemurnian Plastik | >97% oleh polimer |
| Throughput | 2-8 t/h (WEEE) |
| Partikel Ukuran | 5-100mm pasca robek |
Tolok ukur ini mewakili kinerja yang dapat dicapai dengan peralatan penyortiran berbasis sensor modern, dengan asumsi peralatan berukuran tepat dan terpelihara dengan baik yang beroperasi pada bahan baku yang representatif. Hasil sebenarnya bergantung pada komposisi material tertentu, hasil produksi, dan kondisi pengoperasian.